Observasi : Peran Metode Learner Center dan Motivasi pada Anak Usia Sekolah Dasar

Minggu, 09 April 2017



Tugas mini proyek Kelompok 4
Rhesya Nurvianty                   16-029
Sri Ulfa                                   16-040
Nada Salsabila                        16-043
Risti Devi Mawarny               16-044
Muftyanti Arishwandini         16-065
Shyntia E. Putri Pasaribu       16-073
Angel Muliana Tumanggor    16-074

Topik :  Peran Motivasi dalam proses belajar dan pengaplikasian Learner-Center pada siswa

Judul : Peran metode Learner-Center dan Motivasi pada Anak Usia Sekolah Dasar


PERENCANAAN
Pendahuluan
Proses belajar dan mengajar merupakan hal yang tidak asing lagi untuk di dengar. Berbicara tentang belajar dan mengajar juga berbicara tentang sesuatu yang tak pernah barakhir sejak manusia ada dan berkembang di muka bumi sampai akhir hayat nanti. Oleh karena itu, sekolah merupakan sistem yang hidup dan bertugas untuk memenuhi fungsi dasar pembelajaran bagi penerima utama (murid) dan juga bagi orang lain yang mendukung proses pembelajaran (yang mencakup guru, pegawai, orang tua, dan anggota komunitas lainnya).
Terlepas akan hal tersebut, sistem pembelajaran di masa ini menganjurkan agar siswa berperan lebih aktif dari pada guru dimana guru hanya berperan sebagai pemeberi motivasi, atau yang kita kenal dengan learner-centered. Prinsip learner-centered ini mendorong guru untuk membantu murid secara aktif mengkonstruksi pemahaman murid, menentukan tujuan dan rencana, berpikir mendalam dan kreatif, memantau pembelajaran murid, memecahkan pro-positif dan mengontrol emosi, memotivasi diri sendiri, belajar sesuai dengan level perkembangan, bekerja sama secara efektif dengan orang lain (termasuk orang yang bebeda latar belakang), mengevaluasi preferensi murid dan memenuhi standar. Selain program Learner-Centered perlu adanya Motivasi yang menjadi proses pemberi semnagat, arah, dan kegigihan perilaku si muird. Dan motivasi ini merupakan komponen utama dari prinsip Learner-centered., sehingga topik yang kami ambil dalam observasi yang kami lakukan di Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah ini adalah tentang “Metode pembelajaran Learner-centered dan Perspektif dari Motivasi.”
Dengan adanya kedua hal tersebut di dalam sistem pembelajaran di sekolah, akan sangat membantu tumbuh kembangnya kreativitas si anak dan sangat berguna untuk proses pembelajaran selanjutnya. Karena pada zaman yang modern ini, para anak di usia sekolah sangat di tuntut untuk melakukan segalanya dengan lebih baik untuk dapat bersaing dengan orang-orang di luar negaranya sendiri.
Objek yang digunakan di dalam penelitian ini adalah murid kelas dua (2), tiga (3), dan lima (5) SD Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah. Pada 3 kelas ini, kami melakukan penelitian untuk mengetahui bagaiamana metode pembelajaran dengan Learner-Centered di dalam ketiga kelas tersebut, dan sejauh mana motivasi-motivasi yang dimiliki oleh setiap peserta didik di dalam ketiga kelas tersebut.

LANDASAN TEORI

Pendidikan merupakan komponen penting dan juga merupakan investasi jangka panjang bagi kehidupan seseorang. Pendidikan yang berhasil akan menciptakan individu yang baik dan berguna bagi masyarakat, sehingga pendidikan merupakan wadah yang baik untuk mencetak individu-individu yang dapat diterima masyarakat.
Oleh karena itu, motivasi belajar sangat dibutuhkan untuk membantu keberhasilan pendidikan bagi anak murid. Upaya guru dibutuhkan untuk dapat meningkatkan minat siswa dalam hal belajar. Menurut buku Santrock, Motivasi merupakan proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Terdapat beberapa perspektif tentang motivasi :

1.      Perspektif Behavioral
Perspektif behavioral menekankan pada imbalan dan hukuman ekstrenal yang dinilai merupakan kunci dalam mengarahkan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif maupun negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Bentuk insentif yang dapat dipakai oleh guru didalam kelas adalah nilai yang baik, tanda bintang, ataupun pujian. Insentif lainnya antara lain memberi penghargaan atau pengakuan pada murid.

2.      Perspektif Humanistis
Perspektif Humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka. Perspektif ini berkaitan dengan pandangan Abraham Maslow yaitu hierarki kebutuhan. Teori Maslow ini menimbulkan diskusi tentang urutan motivasi dalam kehidupan murid dan guru. Namun, tidak semua orang setuju dengan pandangan ini. Misalnya, bagi beberapa murid kebutuhan kognitif mungkin lebih fundamental ketimbang kebutuhan harga diri. Murid lain mungkin memenuhi kebutuhan kognitif mereka walaupun mereka belum merasaan cinta dan rasa memiliki.

3.      Persepektif Kognitif
Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Minat ini berfokus kepada ide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan, dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat memgontrol lingkungan mereka secara efektif.

4.      Perspektif Sosial

Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembetukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang sangat hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu dengan teman, kawan dekat, ketertarikan mereka dengan orangtua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.
Terdapat beberapa strategi menurut perspektif kognitif untuk meningkatkan motivasi murid untuk meraih sesuatu atau berprestasi. Ada dua cara, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik
a.       Motivasi Intrinstik merupakan motivasi internal dari dalam diri kita untuk melakukan sesuatu demi tujuan sendiri
b.      Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Motivasi ekstrinsik ini sering dipengaruhi oleh insentif ataupun hukuman.
Perencanaan dan Instruksi yang digunakan guru dalam metode pembelajaran yang akan digunakannya didalam kelas juga merupakan aspek yang penting dalam memberikan pembelajaran bagi siswa. Instruksi dan perencanaan learned-center adalah pada siswa, bukan pada guru. Pendekatan ini menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan reflektif. Prinsip ini dinilai paling baik bagi beberapa ahli karena dapat memicu murid untuk lebih aktif dan juga reflektif. Prinsip Learner center dikembangkan oleh American Psychological Association dan dikembangkan dengan mengklasifikasikan beberapa faktor, yaitu : kognitif dan metakognitif,  motivasi dan emosional, sosial dan developmental, dan faktor perbedaan individu.
Berdasarkan teori-teori diatas, kelompok kami ingin mengatahui motivasi apa sajakah dan apakah prinsip learner-centered itu diterapkan di SD Shafiyyatul Amaliyyah.

Alat atau Bahan
·         Camera Handphone
·         Buku
·         Pulpen
Objek atau Subjek

Sampel Penelitian: Siswa dan Guru Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah , dengan subjek penelitian adalah anak SD yaitu kelas reguler  2 , 3 dan 5 , jumlah total yang di observasi 70 siswa dan 3 guru .


Jadwal Pelaksanaan Penelitian:

Uraian
Maret
April


24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Diskusi Pemilihan Topik

















Diskusi Pemilihan Judul dan Teori

















Menanyakan kesediaan sekolah untuk diteliti

















Observasi

















Pengolahan Data

















Diskusi dengan Dosen

















Diskusi Kelompok

















Posting Blog


















Tanggal 28 Maret        : mendiskusikan pemilihan topik yang akan diambil dalam observasi
Tanggal 24 Maret        : memilih judul untuk Penelitian
Tanggal 24 dan 25 Maret : menanyakan kesediaan sekolah untuk melakukan penelitian
Tanggal 05 April         : observasi mulai dilakukan
Tanggal 6-8 April        : melakukan pengolahan data data yang telah dikumpulkan untuk ditinjau dan di susun lebih lanjut
Tanggal 24 Maret        : diskusi dengan dosen
Tanggal 24, 28 Maret
dan tanggal 1-5 April  :  adalah diskusi kelompok mengenai waktu dan penyusunan observasi
tanggal 09 April : memposting hasil observasi ke blog



PELAKSANAAN

Observasi dilakukan pada tanggal 05 April 2017 pada hari Rabu, kelompok berangkat dari rumah masing masing sekitar pukul tujuh dan berada di kampus jam 07.15 sampai 07.30 sebelum berangkat menuju tempat observasi kami sudah lebih dahulu menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam observas.Kelompok tiba di sekolah pada pukul 08.00 wib. karena kami sudah mengirimkan surat izin sebelumnya maka kami tidak perlu menunggu waktu yang lama namun kami tetap harus meminta izin untuk masuk kelas dan kami diberikan bet yang menyatakan bahwa kami adalah tamu. kelompok kami beranggotakan tujuh orang yang kemudian dibagi lagi sebanyak 3 kelompok untuk mengamati sampel sebanyak tiga kelas, dalam kelas 2 sebanyak dua orang, kelas 3 sebanyak tiga orang dan kelas 5 sebanyak dua orang.
Saat sampai dikelas, kami diberikan izin untuk menjelaskan sedikit tujuan kedatangan kami dan untuk menyapa para siswa setelah diizinkan kami pun mengamati keadaan kelas, bagaimana proses belajar mengajar, perilaku murid dan interaksi timbal balik antara murid dan guru. Kelompok yang mengobservasi kelas 2 dan 3 hanya mengamati murid selama satu mata pelajaran saja, kurang
 -2 orang ( Nada dan Sri Ulfa) mengobservasi peserta didik kelas 2
-3 orang ( Shyntia, Angel, dan Resya) mengobservasi peserta didik kelas 3
-2 orang (Muftiyanti dan Risti) mengobservasi peserta didik kelas 5
Pada kelas 5 saat itu mata pelajaran yang diuji adalah IPS sedangkan kelas 3 adalah seni musik , setelah mengobservasi selama satu setengah jam (sampai bel istirahat) kelompok pun pamit untuk menyudahi  kegiatan observasi di kelas itu dan mengucapkan terimakasi atas ketersediaannya peserta didik dan pengajar , dan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi penelitian.

PELAPORAN dan EVALUASI

Laporan

1.Jadwal Kegiatan (Rabu, 05 April 2017)
07.15 - 07.30  : Bel pertama berbunyi , berbaris di depan , mengucapkan ikrar santri , membaca surah surah pendek
07.30 – 09.15 : sesi kelas pertama
09.15 - 09.45  : Sholat Dhuha dan istirahat
09.45 -   12.00  : sesi pelajaran kedua

2. Sistematika Observasi

Kelompok tiba di Yayasan Syafiatul Amaliah pada pukul 07.15 . dan kami membagi kelompok untuk masuk ke 3 kelas ,  anak anak sudah berada di ruang kelas dan membaca surah surah pendek . Kelas berkapasitas 23 orang namun yang hadir hanya 20 orang pada hari Rabu 05 April 2017 , masing masing kelas dipimpin oleh seorang guru.

1.      Untuk kelas 5  metode pengajaran yang dilakukan sang pengajar adalah metode ceramah dan juga sesekali menggunakan tampilan video untuk lebih memudahkan murid dalam memahami materi. Sesi ceramah ini berlangsung sekitar setengah jam , kemudian di akhir pelajaran guru memberikan kuis sebanyak 10 soal pada murid tentang materi yang dibahas tadi , selanjutnya pengajar memberikan kuis tanya jawab sebagai tambahan nilai bagi murid yang mampu mejawabnya.
Dalam hal motivasi pada murid ada beberapa tindakan yang membuat murid ter motivasi selama pelajaran berlangsung
·         Perspektif Behavioral
Dalam suasana kelas tersebut pengajar melakukan metode kuis dengan imbalan nilai setelah menyelesaikan materi tersebut , dan juga melakukan sesi kuis tanya jawab dengan reward tambahan niali bagi siapa yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan.

·         Dalam perspektif Humanistik
Dalam pengamatan tersebut sang pengajar mampu mendorong murid untuk berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan dan memberi kesempatan dan bantuan bagi murid yang agak lama dalam memahami pelajaran untuk ikut menjawab pertanyaan sehingga mereka akan berlomba lomba untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

2.      Pada kelas 3 metode pengajaran yang digunakan memakai prinsipe learner center :
·         faktor kognitif dan Metakognitif
a. Sifat proses pembelajaran: pelajar yang sukses adalah pelajar yang aktif, punya tujuan, dan mampu mengatur diri sendiri dan juga mau bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri.
Contoh: Murid yang bernama Santika kelas 3 di YPSA ini adalah seorang murid yang sangat aktif, dia dapat memainkan musik sendiri ketika disuruh dan belajar sendiri untuk memainkan alat musik tersebut sampai bisa.

b. Tujuan proses pembelajaran:  Miss Wiwik selalu mengulang apa yang diajarkannya kepada murid yang berkapasitas 21 orang tersebut, agar mereka semua bisa.

c. Konstruksi pengetahuan: Pelajar yang  sukses bisa menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan cara yang megandung makna tertentu.
Contoh: Sebelumnya Miss Wiwik sudah mengajarkan penggunaan not kepada murid di kelas 3 A, sehingga rata-rata mereka dapat belajar not dengan memainkan alat musik pianika.
Dan ditemukan pula bentuk bentuk motivasi yang terjadi selama pembelajaran pada murid murid, yaitu :

a. Pengaruh motivasi dan emosi terhadap pembelajaran
Contoh: Setelah Miss Wiwik selalu menegur salah seorang murid secara terus-menerus, sebut aja si B. Si B ini menjadi emosi , tampak dari sikap nya yang menekan pianika tersebut dengan asal-asalan. Sehingga emosi si B yang digambarkan dengan kemarahannya ini melemahkan proses pembelajarannya.

b. Motivasi instrinsik untuk belajar.
 Seperti yang sudah diutarakan pada contoh sebelumnya, Santika adalah seorang murid yang aktif, dan dia sangat berusaha keras untuk dapat mengetahui pembelajaran pada hari itu. Tampak bahwasanya itu merupakan motivasi intrinsik dari dirinya, karena dari hasil pengamatan dia sangat bersemangat pada mata pelajaran seni tersebut. Hal ini merupakan salah satu contoh motivasi intrinsik dari murid tersebut.

c. Efek motivasi terhadap usaha.:
 Miss Wiwik selalu memberikan semangat berupa kata-kata “bagus” kepada setiap murid yang bisa memainkan alat musik pianika dengan sendiri. Dalam hal ini, setiap usaha si anak diberikan reward (penghargaan)
3.      Untuk kelas 2 ,  metode peajaran yang digunakan adalah metode ceramah , guru menerangkan secara lisan kepada siswa tentang apa yang akan dipelajari untuk mencapai tujuan agar siswa cepat mengerti. Dengan ceramah guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi siswa nya.
Dalam segi perspektif motivasi sebagai berikut :

·         Perspektif Behavioral
Di dalam kelas pengajar memberikan latihan soal berbentuk kuis pada siswa dengan imbalan jika dapat menjawab dengan benar makan akan diberi reward berbentuk bintang dibukunya.
  
·         Dalam perspektif Kognitif
Dapat kita amati di sini pengajar memberikan latihan soal dengan siswa dan mereka sangat antusias mendengarkan arahan dari guru. Bagi siswa yang dapat menjawab nya dengan tepat diberikan reward, ini akan membuat efek postif bagi siswa lainnya dan akan menumbuhkan motivasi untuk mencoba menjawab nya juga.

·         Perspektif Sosial
Di sini mereka dapat lebih dekat dengan pengajar karena sering adanya komunikasi dan hubungan yang baik antara pengajar dan siswa. Karena bagi siswa guru itu adalah orangtua kedua setelah ibu dan ayah mereka di rumah.


Evaluasi
Tugas ini seharusnya sudah di mulai pada bulan maret, tetapi karena adanya beberapa halangan seperti begitu banyaknya tugas kuliah, dan beberapa kegiatan lainnya, hingga kurangnya waktu untuk berdiskusi dengan kelompok, maka tugas ini pun sempat tertunda. Akhirnya sebelum UTS pada tgl 8 April kelompok baru memiliki waktu untuk menyelesaikan tugas ini.
Perencanaan awal yang sudah dilakukan cukup  sempurna dan terstruktur, tetapi dalam pelaksanaannya terjadi beberapa kendala. Misalnya observasi diharapkan dapat di mulai pada bulan maret, tetapi pemimpin Yayasan pendidikan Shofiyatul Amaliyah baru memberikan izin pada tgl 4 April. Pada hari-H nya pihak sekolah memberikan waktu kepada kami untuk memasuki kelas dengan waktu 15-30 menit, walaupun kami berhasil memaksimalkan waktu menjadi sekitar satu jam . Secara keseluruhan, tugas observasi ini telah berjalan dengan lancar meskipun terdapat beberapa kendala dan hambatan dalam pelaksanaannya.


POSTER











TESTIMONI
Shyntia (16-073) : Tugas observasi tentang leraner-centered dan motivasi untuk anak SD ini merupakan suatu pengalaman baru bagi saya. Dan saya sangat senang melakukan observasi ini ,karena dapat melihat bagaimana proses belajar dan mengajar pada anak-anak di pendidikan sekolah dasar dimana murid-murid yang di observasi masih sangat lucu dan imut. yah, meski ujung-ujungnya akan mengerjakan laporan observasi sih. heheh. Tapi tidak mengapa, karena hal  ini akan menambah wawasan bagi saya sendiri tentang bagaimana cara menyusun laporan hasil observasi.

Angel Muliana Tumanggor (161301074)
            Sebenarnya saya sudah sering melihat bagaimana keadaan siswa-siswi sekolah dasar tetapi pada observasi kali inilah saya baru mengerti bagaimana interaksi tersebut terjadi, motivasi apa yang ada dalam siswa-siswi dan bagaimana proses belajar mengajar siswa-siswi Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Syafiyyatul Amaliyyah. Cukup banyak kendala yang kelompok kami alami namun akhirnya kami dapat melaksanakan observasi ini dengan baik dan lancar. Menurut saya melalui mata kuliah psikoloogi pendidikan ini banyak ilmu yang bisa didapat, pengetahuan yang bertambah membuat saya jadi memahami banyak hal tentang perilaku seorang siswa dan tentu saja menambah pengalaman saya J

Rhesya N. (16-029):  Menurut saya, tugas observasi ini memberikan saya lebih banyak ilmu dan memudahkan saya untuk lebih memahami pengaplikasian teori-teori psikologi pendidikan dalam dunia pendidikan, terutama dalam hal pengajaran dan pembelajaran.

Risti Devi Mawarny (16-044) : dalam hal ini melakukan sebuah observasi adalah hal yang baru bagi saya , awalnya sedikit cemas apakah kami bisa melakukan observasi ini dengan baik mengingat ada masalah pada surat izin yang memakan waktu sedikit lama juga dari pihak sekolah yang memberikan kepastian yang cukup lama, dimana kelompk lain sudah mulai observasi dan kami belum , namun begitu di hari H saya semakin bersemangat untuk mencoba hal baru ini , dan ini sungguh menyenangkan walaupun sedikit ribet diawal dan akhir , namun ini menambah ilmu bagi saya.

Muftyanti Ariswandini (16-065) :
Menurut sya tugas obs ini mrupkn tugas yg sru dn menrik. Dmna dlm plksanaan tugas ini kami mndpt tntgn yg cukup brt, mulai dri survey ke skolah untk mnyakan ktersdiaan skolah, mngurus surt izin smpai dgn mlakukan obs. Ketika srt izin tlh diterima, kmi jga mnglmi sdkt cekcok dlam mnntukan judul obs dan lndasan teori obs. Namun smua pristwa tsb mngjrkn kami untk ttp bkrjsma, mngndlikn ego satu sma lain dan mnjalin krsma lbih baik lgi. Tugas ini mrupkn tgs prtma bagi kmi yg brhbgn dgn lingkungan luar. Dlm tgas ini kmi mndptkn bnyk pljaran, sprti mnjlin hub dgn kepla skloh dan stff pngjr dan mnjlin krjasma dgn objek. Pengalmn ini mrupkn pngalaman mnarik yg mmbuat kami mmpu mngaplikasikan secara lgsng materi psi pddkn yg sdh kami pljari

Sri Ulfa (16-040)
Menurut saya tugas observasi ini sangat berguna bagi saya karena dapat  menambah wawasan saya dan juga pengalaman saya. Pengalaman bisa bercengkrama dan berinteraksi langsung dengan anak-anak SD di YPSA, dan juga bisa bermain bersama mereka. Dan dapat mempermudah saya untuk lebih mengetahui pengaplikasian teori psikologi pendidikan di dunia pendidikan.










 Daftar Pustaka 

Santrock.J.W.2004.Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Prenada Media Group














PERENCANAA, INTRUKSI, dan TEKNOLOGI

Rabu, 05 April 2017

PERENCANAAN DAN INSTRUKSI PELAJARAN TEACHER-CENTERED

Perencanaan pelajaran Teacher-Centered
         
   Tiga alat umum disekolah yang berguna dalam perencanaan tecaher-centered adalah menicptakan sasaran behavioral (perilaku) , menganalisa tugas , dan menyusun taksonomi (klasifikasi) instruksional.

Menciptakan Suasana Behavioral. Sasaran Behavioral
       
     Sasaran behavioral adlah pernyataan yang menyatakan perubahan dalam perilaku murid untuk mencapai tujuan kinerja uang diharapkan.
Sasaran behavioral harus mengandung tiga bagian :
  •   Perilaku murid. Fokus pada apa yang dilakukan murid.
  • Kondisi diamana perilaku terjadi. Menyatakan bagaimana perilaku akan dievaluasi atau dites.
  •  Kriteria kinerja. Menetukan level kinerja yang dpat diterima.


Menganalisis Tugas
Analisis ini dapat melalui tiga langkah dasar, yaitu :
  1.   Menentukan keahlian atau konsep yang diperlukan murid untuk mengerjakan tugas.
  2.  Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas, seperti kertas, pensil , kalkulator dan sebagainya.
  3.  Mendaftar semua komponen tugas yang harus dilakukan.


Menyusun Taksonomi Instruksional
        
    Taksonomi adalah sistem klasifikasi. Taksonomi Bloom dikembangkan oleh Benjamin Bloom dan teman-temannya (1956). Taksonomi ini mengklarifikasikan sasaran oendidikan menjadi 3 domain : kognitif, afektif, dan psikomotor.

Domain Kognitif, taksonomi Bloom mengandung 6 sasaran.
  •  Pengetahuan.
  •  Pemahaman.
  •  Aplikasi
  • Analisis , murid memecah informasi yang  kompleks menjadi bagian kecil kecil dan mengaitkan informasi dengan informasi lain.
  •   Sintesis , murid mengombinasikan elemen elemen dan menciptakan informasi baru.
  • Evaluasi , murid membuat penilaian dan keputusan yang baik.


Domain Afektif. Taksonomi  afektif terdiri dari lima sasaran yang berhbungan dengan respon emosional terhadap tugas.
  •   Penerimaan. Murid mengethui atau memerhatikan sesuatu di lingkungaN.
  •   Respons. Murid termotvasi untuk belajar dan menunjukkan perilaku baru sebagai hasil dari pengalamannya.
  • Menghargai . murid terlibat atau berkomitemen pada beberapa pengalaman.
  •  Pengorganisasian. Murid mengintergrasikan nilai baru ke perangkat nilai yang sudah ada dan memberi prioritas yang tepat.
  • Menghargai karakteristik. Murid bertindak sesuai nilai tersebut dan berkomitmennya pada nilai tersebut.


Domain Psikomotor, sasaran psikomotor bloom adalah :
  • Gerak Refleks . murid merespon suatu stimulus secara refleks tanpa perlu banyak berfikir.
  • Gerak fundamental dasar. Murid melakukan gerakan dasar untuk tujuan tertentU.
  •  Kemampuan Perseptual. Murid menggunakan indra seperti penglihatan , sentuhan ataupendengaran untuk melakukan sesuatu.
  •  Kemampuan fisik. Murid mengembangkan daya tahan , kekuatan , fleksibilitas dan kegesitan.
  •  Perilaku nondiskusif. Murid mengomunikasikan perasaan danemosinya melalui gerak tubuh.

Belakangan ini , sekelompok psikolog pendidan memperbarui pengetahuan Bloom dan dimensi proses kognitifnya berdasarkan teori dan temuan baru. Dalam update ini, dimensi pengetahuan mengandung empat kategori ;

·         Faktual
·         Konseptual
·         Prosedural
·         Motakognitif
Dalam update dimensi proses kognitif , enam kategori berada didalam kontinum dari kurang kompleks (mengingat)  sampai lebih kompleks (mencipta) :
  1. ·         MengingaT
  2. ·         Memahami
  3. ·         Mengaplikasikan
  4. ·         Menganalisis
  5. ·         Mengevaluasi
  6. ·         Mencipta


Intruksi Langsung

            Instruksi langsung adalah pendekatan teacher-centered yang terstruktr yang dicirikan oleh arahan dan kontrol guru , ekspektasi guru yang tinggi atas kemajuan murid, maksimalisasi waktu yang dihabiskan murid untuk tugas-tugas akademik , dan usaha oleh guru untuk meminimalkan pengaruh negatif terhadap murid.
            Tujaun penting dari instruksi langsung adlah memaksimalkan waktu belajar murid. Semakin banyak waktu belajar murid , semakin besar kemungkinan mereka mempelajari materi danmeraih standar tinggi.

Strategi Instruktur Teacher-Centered

            Banyak strategi teacher-centerd merefleksikan instruksi langsung. Disinilah kita akan berbicara tentang mengorientasikan murid pada materi baru, mengajar, menjelaskan dan mendemonstrasikan, menanyakan dan diskusi , penguasaan pembelajaran, tugas dikelas dan pekerjaan rumah.
·         Mengorientasikan
·         Advance organizer, aktivitas dan teknik pengajaran dengan membuat kerangka pelajaran dan mengorientasikan murid pada materi sebelum materi itu diajarkan.
·         Expository advance organizer, pengetahuan baru yang diberikan kepada murid yang akan mengorientasikan mereka ke pelajaran yang akan datang
·         Comparative advance organizer, memperkenalkan materi baru dengan mengaitkannya dengan apa yang sudah diketahui murid.
·         Pertanyaan dan diskusi
·         Mastery learning , pembelajaran satu konsep atau topik secara menyeluruh sebelum pindah ke topik yang lebih sulit

·         Seatwork , menyuruh murid atau sebagian besar murid untuk belajar sendiri sendiri di bangku mereka.

MOTIVASI

Mengeksplorasi Motivasi

Apa Itu Motivasi?
         
   Motivasi adalah proses yang memberi semangat , arah , tujuan dan kegigihan perilaku. Arinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi , terarah dan bertahan lama.

Perspektif Tentang Motivasi

Perspektif Behavioral
        
    Perspektif behavioral menekankan imbalan dan hukuman ektersnal sebagai kunci dalam menetukan motivasi murid. Intensif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. 
            Intensif yang dipakai guru dikelas anatara lain nilai yang baik, yang memeberikan indikasi tentang kualitas pekerjaan murid, dan tanda bintang atau pujian jika mereka menyelesaikan suatu tugas dengan baik.

Perspektif Humanistis
           
   Perspektif humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian , kebebasan untuk memilih nasib mereka. Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tententu harus dipuaskan terlebih dahulu sebelum memuaskan kebutuhan lain yang lebih tinggi.
            Hirarki kebutuhan Maslow, yaitu konsep maslow bahwa kebutuhan individual harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut : fisiologis, keamanan , cinta dan rasa memiliki, harga diri dan aktualisasi diri.
            Aktualisasi diri adalah kebutuhan tertinggi dan sulit dalam hirarki Maslow, aktualisasi diri adalah motivasi untuk mengembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia.

Perspektif Kognitif
       
     Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Jadi perspektif behavioral memandang motivasi murid sebagai konsekuensi dari intensif eksternal, sedangkan perspektif kognitif berpendapat bahwa tekanan ekternal seharusnya tidak dilebih lebihkan . perspektif kognitif merekomendasikan agar murid diberi lebih banyak kesempatan dan tanggung jaab untuk mengontrol hasil prestasi mereka sendiri.
            Perspektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R.W. White (1959), yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi , yakni ide bahwa orang termotivasi untk menghadapi lingkungan mereka secara efektif , menguasai dunia mereka, danmemproses informasi secara efisien.

Perspektif Sosial
            Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliansi pada murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orangtua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.

Motivasi Untuk Meraih Sesuatu

Motivasi Ektrinsik dan Intrinsik

            Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh intensif eksternal seperti imbalan dan hukuman.
            Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri atas dasar keinginannya sendiri. Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu

Determinasi Diri dan Pilihan Personal

            Salah satu pandangan tentang motvasi intrinsik menekankan pada determinasi diri. Dalam pandangan ini , murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan mereka sendiri , bukan karena kesuksesan atau imbalam eksternal. Para riste menemukan bahwa motivasi internal dan minat intrinsik dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilihan atau peluang untk mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka.

Pengalaman Optimal

            Mihaly Caikszentmihalyi , Nakamura & Caikszentmihaly juga mengambangkan ide yang relevan untuk memahami motivasi intrinsik. Dia memeplajari pengalaman optimal dari orang orang selama dua dekade. Orang melaporkan bahwa pengalaman optimal ini berupa perasaan yang senang dan bahagia yang besar. Dia menemukan bahwa pengalaman optimal itu kebanyakan terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas.

Imbalan Ektrinsik dan Motivasi Instrinsik

            Imbalan eksternal dapat berguna untuk merubah perilaku. Tetapi dalam stuasi imbalan atau hadiah dapat melemahkan pembelajaran. Hadiah yang mengandung informasi tentang kemampuan murid dapat meningkatkan informasi intrinsik dengan cara meningkatkan perasaan bahwa diri mereka kompeten. Namun umpan balik negatif , seperti kritik, yang mengandung informasi bahwa murid tidak pandai, dapat melemahkan motivasi intrinsik terutama apabila murid meragukan kemempuan mereka untuk menjadi kompeten.



Psikologi Pendidikan

Rabu, 29 Maret 2017

Selayang Pandang Psikologi Pendidikan

            Psikologi adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan  adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhusukan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.

Latar Belakang Historis
           Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum awal abad ke-20. Ada tiga perintis terkemuka yang muncul diawal sejarah psikologi pendidikan.

William James
Tak lama setelah meluncurkan buku ajar psikologinya yang pertama , Principle of Psychology (1890), William James (1824-1910) memberikan serangkaian kuliah yang bertajuk “ Talk to Teachers”. Dalam kuliah ini dia mengatakan bahwa eksperimen psikologi di laboratorium seringkali tidak bisa menjelaskan kepada kita bagaimana cara mengajar pada anak secara efektif. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi diatas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.

John Dewey
Tokoh kedua yang berperan besar dalam psikologi pendidkan adalah John Dewey( 1859-1952). Dia menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologis di tingkat praktis. Dewey membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di AS , di universitas Chicago , pada tahun 1894. Pertama dari Dawey kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajr active ( active learner)  Sebelum Dawey mengemukakan pandangan ini ada keyakinan bahwa anak anak semestinya duduk diam di kursi mereka dan mendengarkan pelajaran secara pasif dan sopan.  Sebaliknya , Dawey percaya bahwa anak anak akan belajar dengan baik jika mereka aktif. Kedua, dari Dawey kita mendapatkan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dawey percaya bahwa anak anak seharusnya tidak hanya mendapatkan pelajaran akademik saja, tetapi juga harus diajari cara berfikir dan beradaptasi dengan dunia diluar sekolah . dia secara khusus berpendapat bahwa anak anak harus belajar agar mampu memecahkan masalah secara reflektif. Ketiga , dari Dawey kita mendapatkan gagasan bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidkan yang selayaknya.

E.L. Thorndike
Perintis ketiga adalah E.L.Thorndike (1874-1949), dia memberi banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran perbaikan dasar dasar belajar secara ilmiah. Thorndike berpendapat bahwa salahs atu tugas pendidikan disekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran pada anak. Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuruan.

CARA MENGAJAR YANG EFEKTIF

Pengetahuan dan Keahlian Profesional
Guru yang efektif memiliki strategi pengajaran yang baik dan di dukung oleh metode penetapan tujuan , rancangan pengajaran , dan manajamen kelas. Mereka tahu bagaiman memotivasi , berkomunikasi dan berhubungan secara efekif dengan murud murid dari berbagai latar belakang kultural.

Penguasaan Materi Pembelajaran
            Guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi. Tentu saja pengetahuan subjek materi buakn hanya mencakup fakta, istilah dan konsep umu. Ini juga membutuhkan pengetahuan tentang dasar dasar pengorganisasian materi , megaitkan berbagai gagasan , cara berfikir dan beragumen pola perubahan dalam satu mata pelajaran,kemampuan untuk mengaitkan satu agsan dari suatu disiplin ilmu ke disiplin ilmu lainnya.

Strategi Pengajaran
            Prinsip Konstruktivisme adalah ini dari filsafat pendidikan Willian James dan John Dawey. Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahaman. Menurut pandangan Kontruktivisme guru bukan sekedar memberikan informasi ke pikiran anak, tetapi juga harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka , menemukan pengetahuan, merenung, dan berfikir kritis .
Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Intruksional.
            Guru yang efektif tifak hanya mengajar dikelas, mereka harus menetukan tujuan pengajaran dan menyusun rencanya untuk mencapai tujuan itu . dalam menyusun rencana, guru memikirkan tentang cara agar pelajaran bisa menantang sekaligus menarik.

Keahlian Manajemen Kelas
            Aspek penting menjadi guru yang efektif adalah mampu menjaga kelas tetap aktif bersama dan mengorientasikan kelas ke tugas tugas. Mampu membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.

Keahlian Motivasional
            Guru yang efektif mempunyai startegi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar.

Keahlian Komunikasi
Yang juga sanagat diperlukan dalam mengajar adalah keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi nonverbal dari murid, dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif.

Bekerja Secara Efektif dengan Murid dari Latar Belakang Kultural yang Berlainan
Di dunia yang saling berhubungan secara kultural ini , guru yang efektif harus mengetahui danmemahami anak dengan latar belaang kultural yang berbeda beda dan sensitif terhadap kebutuhan mereka.
           





Implikasi Pendidikan dalam Tahap Perkembangan

Minggu, 19 Maret 2017

Bagaimana Implikasi Pendidikan dalam Tahap Perkembangan

 Masa kanak-kanak (masa prasekolah) usia 2-6 tahun

Pada periode ini suasana pendidikan yang baik dan tepat adalah dalam suasana kekeluargaan dan dengan prinsip asih(mengasihi), asah(memahirkan), dan asuh(membimbing). Anak dapat bertumbuh dengan baik jika mendapatkan perlakuan kasih sayang, pengasuhan yang penuh pengertian dan dalam situasi damai dan harmoni. Kegiatan pembelajaran itu bagaikan kegiatan-kegiatan yang disengaja, namun sekaligus alamiah seperti bermain “ditaman” bermain sambil belajar yang memungkinkan anak belajar dalam dunia permainan yang dapat memperluas pengetahuan dan sosial antar sesama.
    Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode yaitu
  •   Bercerita: bercerita sebaiknya diberikan semenarik mungkin dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai.
  •  Bernyanyi: bernyanyi adalah kegiatan dalam melagukan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan. Bernyanyi dapat menumbuhkan rasa estetik.
  •   Berdarmawisata: kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan kegiatan yang dibahas di lingkungan kehidupan anak.untuk melihat, mendengar, merasakan, mengalami langsung berbagai keadaan atau peristiwa di lingkungannya. Bisa berdarmawisata ke pasar, sawah, pantai, kebun, dan lainnya.
  •   Bermain peran: merupakan kegiatan menirukan perbuatan orang lain disekitarnya. Hal ini dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan anak.
  • Peragaan/Demontrasi: kegiatan dimana tenaga pendidik/tutor memberikan contoh terlebih dulu, kemudian ditirukan anak-anak. Hal ini dapat melatih keterampilan dan cara-cara yang memerlukan contoh yang benar.
  • Pemberian tugas: merupakan metode yang memberikan kesempatan pada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan tuntas.
  •  Latihan: kegiatan melatih anak untuk menguasai khususnya kemampuan psikomotorik yang menuntuk kooardinasi antara otot-otot dengan mata dan otak. Latihan diberikan sesuai dengan langkah-langkah secara berurutan.


Masa kanak-kanak Akhir ( usia 6-12 tahun)

Pada periode ini, tahap kognitif anak usia SD sudah berada pada tahap operasional-konkret.
Mereka mampu berpikir logis tentang suatu objek dan kejadian, mampu mengklarifikasi objek, dan menguasai konversi jumlah dan berat.

Beberapa cara pembelajaran yang diharapkan untuk para pendidik dalam pengajaran anak usia SD:
·      Cara pembelajaran yang lebih terbuka, lansung memberikan kesempatan anak berperan dalam mengoptimalkan perkembangan fisik, kognitif dan moral mereka.
·      Program pembelajaran yang fleksibel dan tidak kaku serta membedakan perbedaan individu, tidak monoton.
·      Menerapkan banyak alat peraga ataupun objek dalam pembelajaran.
·      Memuji anak ketika mereka berhasil mengerjakan sesuatu dengan baik dan menyemangati mereka bila belum melakukan sesuatu secara optimal.
·      Menyampaikan segala sesuatu yang baik dalam pembelajaran karena pada periode ini, anak usia SD akan patuh pada orang yang dihormati.
·      Mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan dalam berbagai kegiatan sekolah.
·      Memberi kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan,mendorong rasa ingintahu mereka.
·      Penerimaan positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak,tidak membeda-bedakan anak yang satu dengan yang lain. 
3.      Masa Remaja (adolescense) 11/12 tahun – 18/24 tahun
Pada tahap ini, peserta didik sudah mampu berpikir abstrak dan logis, dengan menggunakan simbol-simbol tertentu atau mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal yang tidak terikat lagi oleh objek-objek yang bersifat konkrit, seperti peningkatan kemampuan analisis, kemampuan mengembangkan suatu kemungkinan berdasarkan dua atau lebih kemungkinan yang ada, kemampuan menarik generalisasi dan inferensasi dari berbagai kategori objek yang beragam. Selain itu, ada peningkatan fungsi intelektual, kapabilitas memori dalam bahasa dan perkembangan konseptual.
Cara berfikir kausatif. Hal ini menyangkut tentang hubungan sebab akibat. Peserta didik sudah mulai berfikir kritis sehingga ia akan melawan bila orang tua, guru, lingkungan, masih menganggapnya sebagai anak kecil. Mereka tidak akan terima jika dilarang melakukan sesuatu oleh orang yang lebih tua tanpa diberikan penjelasan yang logis.
Masa remaja awal ini merupakan puncak emosionalitas bagi peserta didik, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama ogran seksual mempengaruhi perkembangan emosi dan dorongan baru yang dialami sebelumnya seperti perasaan cinta. Pada usia remaja awal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa, emosinya bersifat negatif dan tempramental.
Pada tahap ini masa SMP dan SMA juga termasuk dalam periode adolscense ini
Pada Periode ini, Implikasi Pendidikan yang baik dan Tepat bagi Peserta Didik (SMP) yaitu, antara lain:
  • 1.      Bahwa belajar akan bermakna kalau input (materi pelajaran) sesuai dengan minat dan bakat peserta didik . Pembelajaran  akan berhasil kalau penyusun silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat kesulitan dan variasi input dengan harapan serta karakteristik peserta didik  sehingga motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal.
  • 2.      Guru mampu meramu pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik yang dipadukan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran, sehingga akan dapat membantu peserta didik untuk melalukan eksplorasi dan elaborasi dalam rangka membangun konsep.
  • 3.      Guru harus memberi materi pelajaran yang merangsang dan menantang, kadang para peserta didik merasa bosan dan tidak tertarik dengan materi yang sedang diajarkan. Untuk menghindari gejala yang seperti ini guru harus memilih dan mengorganisir materi sedemikikan rupa sehingga merangsang dan menantang siswa untuk mempelajarinya.
  • 4.      Berikan penguatan kepada peserta didik, penguatan atau reinforcement mempunyai efek yang besar jika sering diberikan kepada peserta didik. Setiap keberhasilan siswa sekecil apapun, hendaknya ditanggapi dengan memberikan penghargaan.
  • 5.      Guru mendorong peserta didik untuk berfikir, melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka dan mendorong peserta didik untuk bertanya sesama teman.
  • 6.      Perlunya disiapkan program pendidikan atau bimbingan yang memfasilitasi perkembangan kemampuan berpikir peserta didik (remaja).
  • 7.      Orang tua harus mampu menangani masalah si anak (Peserta didik) dengan melakukan pendekatan yang baik, bukan dengan memarahi atau yang dapat membuat si anak tidak mau menceritakan masalah nya kepada orang tua sendiri, sehingga pada akhirnya si anak akan mengambil keputusan sendiri, dan salah mengambil keputusan.
  • Guru memberikan tugas-tugas kepada peserta didik yang terarah pada pelatihan kemampuan mengklasifikasi, menganalisis, memprediksi, dan menciptakan


Implikasi Pendidikan untuk anak usia SMA

Beberapa ciri yang kita harus tahu terlebih dahulu yang terjadi di usia ini ialah :
  • -         Aktifnya hormone seksual
  • -    Emosi yang tidak stabil,berubah-ubah dan cenderung meledak- ledak.
  • -          Mulai tertarik atau berteman dengan lawan jenis

Adapun dilihat dari perkembangan kognitifnya ialah operasional.
-         
  •       Mampu berfikir logil mengenai suatu yang abstrak
  • -          Menaruh perhatian tentang masa depan,konsep,hipotesis
  • -          Pola pikir cenderung egoisentris
  • -      Perkembangan identitas diri (biasanya ia mencara idolanya atau tokoh yang ia senangi)  
 Pada da periode ini motivasi merupakan tenaga dorong untuk :  
  1.  Mencari dan menemukan nformasi mengenai hal hal yang dipelajari
      Menyerap informasi dan mengolahnya
  1. ·         Mengubah informasi yang di dapat menjadi suatu hasil
  2. ·         Menerapkan hasil ini dalam kehidupan

Agar motivasi ini dapat terpelihara pendidik perlu menciptakan suasana belajar yang positif dan menyajikan langkah langkah  yang mendorong peserta didik untuk ingin belajar dan ingin menerapkan hal hal yang dipelajari , seperti:

Menciptakan Suasana Belajar Yang Positif
·         Pengajar menciptakan suasana pemecahan masalah orang dewasa di dalam kelas
·         Pengajar bersifat empatik , dengan menunjukan bahwa pengajar memahami situasi , perasaan dan kebutuhan peserta didik
·         Pengajar berperilaku sebagai dirinya sendiri , tidak perlu berpura pura atau berlagak profesional. Membuka diri dan membagi pengalaman sebagai ilustrasi atau contoh ide ide dapat besar manfaatnya, dan dapat membantu empati
·         Pengajar memusatkan masalah pada kebutuhan dan masalah masalah peserta didik , bukan pada hal hal yang ditentukan sebelumnya.
·         Kegiatan kegiatan harus dirancang sedemikian rupa sehingga memperjelas tujuan belajar masing masing peserta dan membantu mereka untuk merenanakan penerapannya
·         Tidak selalu memakai metode punishment karena dimasa ini mereka sudah mengenal mana yang baik dan mana yang tidak baik. Lebih membuat briefing atau arahan motivasi kepada mereka agar bisa mencapai apa yang mereka inginkan di masa depan. Terutama pada orang yang disekitar mereka.
·         Biarkan mereka mengeluarkan bakat seni atau potensi-potensi dalam diri mereka. Masa SMA ini biasanya aktif dengan ekstrakulikuler. Peran yang harus diambil ialah mendukung mereka dan memberikan masukan yang positif serta arahan. Dan berikan pengertian apa yang terjadi jika mereka terlalu fokus dengan kegiatan tersebut pada konsentrasi belajar mereka.

kelompok 4 :

Risti Devi Mawarny     16-044
Nada Salsabila              16-043
Sri Ulfa                         16-040
Tya Pasaribu                 16-073
Muftyanti Ariswandini 16-065
Rhesya Nurfianti          16-029
Angel Muliana             16-074

Psikologi Pendidikan : Learning

Minggu, 05 Maret 2017


Learning (pembelajaran) adalah suatu perubahan perilaku yang relative permanen yang dibentuk melalui pengalaman. Namun, tidak semua perubahan perilaku merupakan hasil belajar. Perubahan perlaku karena obat obatan, kelelahan dan luka bukan termasuk dari bagian belajar.


Classical Conditioning 

Yaitu,  tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus netral menjadi diasosiasikan menjadi stimulus bermakna dan menimpulkan kemampuan untuk mengeluarkan respon yang serupa. Seperti Ivan pavlov yang menguji anjingnya dengan bunyi bel.

Berikut merupakan contoh contoh classical conditioning dalam kehidupan sehari hari 
  • Devi dulu paling malas untuk mebereskan rumah , namun kakak laki-laki Devi mulai mengajak nya untuk membereskan rumah pada saat jam setengah 6 sore karena pada jam 7 malam Ayah Devi akan pulang dari pekerjaannya , dan ajakan tersebut terus menerus di lakukan oleh kakak laki-laki Devi sehingga menjadi sebuah kebiasaan baru bagi Devi , dan ketika ia melihat jam sudah menunjukkan angka setengah 6 sore tanpa disuruh lagi Devi akan bergegas membereskan rumahnya. 
  • Pada saat Ayah saya terbangun di pagi hari , saya selalu disuruh untuk membuatkan kopi, dan pada hari hari selanjutnya tanpa disuruh saya akan langsung membuatkan kopi untuk Ayah saya. Sehingga respon yang sama yang saya lakukan adalah membuat kopi.
  • Seorang anak bernama Nia sedang duduk di dalam rumahnya. Saat sedang menonton tv tiba tiba dia mendengarkan bunyi klakson sepeda motor dari luar rumahnya dan ketika ia lihat keluar ternyata itu adalah Ayahnya, Nia pun kemudian membukakan pintu gerang supaya Ayahnya bisa masuk. Keesokan harinya Nia mendengar suara klakson sepeda motor lagi dan ia langsung bergegas membukakan gerbang.
  • Saya memiliki adik berusia 3 tahun, tiba tiba ia diserang oleh kumbang yang mengakibatkan luka luka pada tangannya. Sebelumnya ia tidak takut pada kumbang , namun semenjak kejadian tersebut stiap kali ia melihat kumbang ia akan berteriak dan menangis. 
  • Hp sudah seperti nyawa bagi saya, kemanapun dan kapanpun saya akan mlihat dan membawa hp saya, karena terlalu sering berinteraksi dengan hp dan sosial media, setiap kali saya merasaka getaran atau mendengar nada dering seperti notification saya akan langsung mengecek hp saya padahal tidak ada apa apa di dalam hp saya.

Operant Conditioning

Yaitu, tipe belajar dimana konsekuensi pada perilaku mengarah pada perubahan probabilitas terjadinya perilaku. 
Ada 3 macam konsekuensi, yaitu : penguat positif, penguat negativ, dan punishment/ hukuman

Penguat positive           : biasanya menggunakan reward
Penguat negative          : biasanya berupa shaping (membentuk  perilaku)
Punishment(hukuman) : biasanya menyakitkan dan dapa menimbulkan rasa traumatic atau dendam.

Berikut contoh contoh operant conditioning :
  • Ketika berumur 6 tahun saya diajarkan sholat , setelah berumur 10 tahun orangtua saya mengharuskan saya untuk sholat 5 waktu , jika tidak maka saya akan dimarahi oleh orangtua saya, dan karena saya tidak suka dimarahi saya pun melakukan sholat 5 waktu setiap hari dan akhirnya saya pun terbiasa untuk melakukan sholat 5 waktu tanpa disuruh orangtua.
  • Jono adalah siswa kelas 5 Sekolah Dasar. Suatu hari ia terlambat masuk kelas , bu Guru pun memberinya hukuman berdiri di depan kelas sampai waktu bel istirahat berbunyi, sejak saat itu Jono pun tidak pernah lagi terlambat masuk kelas.
  • Ketika guru saya di SMA memuji hasil tugas geografi saya dengan bagus, saya menjadi lebih tertarik untuk berusaha meningkatkan pengerjaan tugas saya selanjutnya agar saya mendapat pujian lagi
  • Dimas sewaktu kecil paling malas untuk menaruh kembali piring bekas makannya ke dalam wastafel, namun pada suatu saat sang ibu menyuruhnya untuk menaruh piring bekas makan siangnya kedalam wastafel dan ketika Dimas mengerjakan nya sang ibu pun memberi pujian kepada Dimas, karena ia merasa senang akan pujian itu ia pun terus melakukannya dan sang ibu akan memujinya, hingga hal itu menjadi suatu kebiasaan bagi Dimas meskipun ia tidak lagi mendapat pujian dari sang Ibu.
  • Eki selalu malas untuk membawa baju lab dari rumah ketika akan praktikum, ia lebih memilih meminjam baju lab temannya yang rumahnya tak jauh dari kampus, pada suatu ketika saat ia akan meminjam baju lab temannya, ternyata baju lab itu akan dgunakan temannya, sehingga ia di keluarkan saat praktikum karena tidak memakai baju lab, akhirnya Eki pun tidak pernah meminjam agi baju lab temannya melainkan ia membawa sendiri baju lab nya dari rumah.
Pendekatan Kognitif 
Belajar ialah proses mental aktif yang memperoleh mengingat dan menggunakan pengetahuan.

Berikut contoh-contoh pendekatan kognitif  :
  • Ketika ibu saya mengajari saya memasak , maka saya akan mengingat ajaran itu dilain waktu
  • Waktu SD saya belajar reaksi kimia fotosintesis  dimana sang guru mengunakan metode gambar untuk bahan ajarannya, misalnya gambar air adalah CO2 , sehingga sampai sekarang jika ilmu itu disinggung saya akan dapat mengingatnya kembali, dalam arti lain saya memngingatnya dalam memori jangka panjang saya.
  • Devi sangat ingin bisa menaiki sepeda seperti teman temannya yang lain, lantas ia minta kakak nya untuk mengajari nya , Kakak nya pun memberitahukan lagkah langkah apa saja yang harus Devi lakukan agar bisa mengendarai sepeda, lantas Devi pun mengerjakan apa yang di instruksikan kakaknya dan belajar bagaimana menguasai sepeda tersebut dari penjelasan awal kakaknya. 
  •  Ketika kita mendengarkan musik yang kita suka secara otomatis kita akan hapal dengan liriknya, dan disaat kita mendengarkan musik tersebut secara tidak sengaa maka kita akan langsung menyanyikan lagu tersebut. 
  • Akhir-akhir ini saya sangat senang belajar memasak, saya belajar cara cara nya melalui internet dan mencari bahannya juga melalui internet, karena tidak ada penjelasan langsung akhirnya saya pun mencoba sendiri bagaimana mengembangkan cara memasaknya memalui penjelasan di internet tadi.